Pengembang Game Makin Marak di Pontianak

PONTIANAK – Saat ini makin banyak aplikasi untuk membuat program games. Meskipun begitu, membuat games membutuhkan kemampuan IT, ketelatenan dan kreatifitas yang tinggi. Di Pontianak, beberapa anak muda sudah memproduksi game sendiri. Adalah Hengki Wahyudi, salah seorang penyedia jasa pembuatan game dan perangkat lunak lainnya.

“Fokus saya adalah membuat game dan aplikasi pembelajaran (pendidikan) untuk sistem operasi Windows. Permintaaannya memang belum banyak. Dalam sebulan, omzet saya bisa mencapai Rp 6-8 juta per bulan,” kata pria 30 tahun ini. Namun ke depan, ia yakin akan bisa berkembang. “Memang dalam satu bulan hanya ada beberapa pemesan saja, tetapi frekuensinya terus meningkat,”sambung dia.

Berkantor di Jalan Adisucipto, Gang Belitung 1, Pontianak, MIP adalah perusahaan yang berfokus pada pembuatan, pengembangan software dan pemrograman aplikasi untuk segmen dunia pendidikan. Tak heran, jika melihat profil Hengki yang adalah sarjana pendidikan matematika dari Universitas Tanjungpura. 

Karya Tampil di Jepang    

Rizka Apriandita Edmanda (21 th) adalah seorang pembuat aplikasi game lainnya. Karyanya bahkan sudah ditampilkan di Jepang dalam rangka program Science and Culture Expedition. Meskipun berkuliah di Fakultas Hukum, Putri Indonesia
EDUKASI LEWAT GAME : Salah seorang pembuat aplikasi game adalah Rizka, Putri Indonesia Favorit asal Kalbar tahun 2014. Dia membuat game bertema anti korupsi yang sudah ditampilkannya di Jepang.
EDUKASI LEWAT GAME : Salah seorang pembuat aplikasi game adalah Rizka, Putri Indonesia Favorit asal Kalbar tahun 2014. Dia membuat game bertema anti korupsi yang sudah ditampilkannya di Jepang.

Favorit asal Kalbar tahun 2014 sangat jago dalam bidang grafis komputer. Salah satu game untuk platform Windows yang dibuatnya bertemakan antikorupsi tersebut. “Ini game sederhana saja. Hanya permainan ular tangga untuk anak-anak,” ujarnya merendah.

Game komputer yang mengadopsi permainan ular tangga ini, mengambil tokoh Miss Justice dengan seragam ala Putri Indonesia untuk memulai petualanangan. Dalam permainan tersebut, dia akan dihadang oleh tiga orang penjahat, yang masing-masing bernama; Koru, Kolu, dan Nepo; asosiasi dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

Ide ini berawal dari keprihatinannya terhadap maraknya korupsi di Indonesia.  “Sosok Miss Justice ini terinspirasi dari kegiatan Putri Indonesia. Tetapi game ini adalah upaya saya untuk ikut dalam pencegahan korupsi. Saya sendiri merasa tidak masuk akal melawan korupsi yang sudah menggurita dengan sebuah game. Tetapi setidaknya saya punya upaya untuk mengedukasi anak-anak di usia dini,” kata dia

Ke depan, lanjut Rizka, game ini akan dikembangkan lebih baik lagi, baik dari sisi grafis maupun pengalaman bermain. Bahkan game ini akan dibuatkan versi Android. “Sekarang anak-anak sudah pegang smartphone semua. Jadi game android adalah target saya ke depan. Saya akan menggandeng teman-teman yang punya kemampuan IT lebih baik,” paparnya. (ars)

Share on Google Plus

About MOMO

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment