Laris Manis Penyewaan Pakaian

SEWA PAKAIAN : Kebutuhan akan pakaian di hari-hari penting, menjadikan peluang usaha penyewaan busana daerah hingga busana pengantin laris manis diserbu konsumen yang ingin menyewa. HARYADI/PONTIANAKPOST
SEWA PAKAIAN : Kebutuhan akan pakaian di hari-hari penting, menjadikan peluang usaha penyewaan busana daerah hingga busana pengantin laris manis diserbu konsumen yang ingin menyewa. HARYADI/PONTIANAKPOST

Pakaian menjadi kebutuhan utama manusia. Penggunaannya pun tidak hanya untuk sehari-hari saja - melainkan juga di momen-momen tertentu. Pesta pernikahan, acara ulang tahun pemerintah, atau pada kegiatan-kegiatan sekolah.  Probisnis akan mengulas mereka yang memanfaatkan peluang ini untuk mendapatkan keuntungan. Oleh : Ramses L Tobing

Salah satu pelaku usaha ini adalah Syarifah Nuraeni. Dibawah bendera Sanggar Seni Anak Bangsawan, bisnis ini sudah berjalan lebih dari belasan tahun. Sebagian besar pakaian yang disewa adalah baju kurung, baju teluk belanga dan kain sarung corak insang. Itu pakaian khas dari etnik melayu di Kota Pontianak.

Sebagian besar pakaian ini didesainya sendiri. Karena itu motifnya pun beragam. Ada yang polos, berenda, kemudian menggunakan pesak dan tidak. Namun dia menjamin untuk tetap menjaga originalitas pakaian tradisional. “Saya belum menyewakan pakaian tradisional etnik lain, karena itu khan tak bisa sembarangan. Penyewaan pakaian tradisional itu harus detail, agar tidak terjadi kesalahan,” kata Nuraeni saat ditemui wartawan koran ini di sanggarnya, Jalan KH. Ahmad Dahlan, Gang Rahmat, kemarin.

Dia menilai bisnis ini sedang naik daun dalam empat tahun terakhir. Itu karena ada dukungan dari Pemerintah Kota Pontianak. Salah satunya rutin menyelenggarakan event-event yang berkaitan dengan kegiatan budaya. Semenjak itulah bisnis serupa pun mulai tumbuh. Dia mengaku jarang sepi order. “Meski tidak setiap hari, tetap saja ada konsumen yang menyewa pakaian. Harga sewanya pun masih terjangkau, paling mahal Rp 150 ribu,” beritahunya.

Nuraeni merasa tidak khawatir dengan persaingan yang ada. Dia menilai setiap usaha pasti memiliki ciri khas masing-masing. Untuk usahanya, dia lebih mengedepankan pakaian yang berkualitas. Tidak hanya dari sisi bahan, model dan bentuk asli pakaian. Selain itu, dari sisi harga juga menjadi pertimbangan.

Menurut Nuraeni, tarif sewa yang ditawarkannnya memang lebih murah dibandingkan yang lain. Namun tidak berarti produk tidak berkualitas. Justru itu harus dijaga agar konsumen tetap bertahan. “Kami tidak hanya bicara harga, tapi bagaimana memberikan pengetahuan ke konsumen cara berpakaian yang baik. Apalagi jika itu pakaian tradisional, karena ada pesan tersirat di dalamnya,” jelas pemilik Kedai Roti Cane Cek Ani ini.

Mengikuti Tren, Menjaga Orisinalitas
Ada juga Agus Hernawati yang menggeluti usaha serupa. Terhitung Sanggar Rias Betty Mantico ini sudah berdiri selama 18 tahun. Beragam kostum yang ditawarkannya guna disewa konsumen. Baik itu  pakaian tradisional, untuk pesta pernikahan dan jenis pakaian-pakaian lainnya.

Hernawati bercerita, kala itu konsumen usaha ini belum seramai sekarang. Bahkan pelaku usahanya pun juga tidak ramai. Hanya saja dia melihat potensi ke depan sehingga memilih tetap meneruskan usaha ini.

“Saya melihat jika usaha ini berpotensi untuk terus tumbuh. Ini menjadi kebutuhan utama yang tidak bisa dielakkan. Saya belajar dari senior-senior yang usaha mereka terus tumbuh,” kata Hernawati.

Bedanya, pakaian yang disewa Hernawati lebih lengkap, termasuk pakaian tradisional. Tak hanya dari etnis Melayu di Kota Pontianak, tetapi juga pakaian tradisional dari Padang, Palembang, Lampung dan beberaps daerah lainnya.

Pakaian pun sudah dikreasi sedemikian rupa agar terlihat cantik. Ini dilakukan karena mengikuti perkembangan zaman. Namun dia menjamin tetap menjaga keaslian pakaian-pakaian tradisional. Itu menjadi kualitas yang ditawarkan ke konsumen. “Misalnya pakaian baju kurung, kita kreasikan agar terlihat menarik sehingga anak-anak muda pun berminat untuk memakainya. Tambahannya bisa berupa bordiran,” jelas perempuan 44 tahun ini.

Untuk harga, tarif paling mahal berkisar Rp 2,5 juta untuk satu helai pakaian. Sedangkan paling murah dalam kisaran Rp 50 ribu. Dia menyebutkan semakin bagus bahan pakaian dan motifnya, maka tarif sewanya semakin mahal.

Sekarang bisnis ini sedang tumbuh, bak jamur di musim hujan. Banyak orang yang membuka usaha serupa. Menurut Hernawati, hal ini bisa menyatukan komunikasi antar sesama pelaku usaha. Orderan yang diterima satu pelaku usaha bisa saja di order ke yang lain. Namun dalam catatan, orderan yang diterima menumpuk. 
Share on Google Plus

About MOMO

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment