Menyetir Uang dari Kursus Mobil

KURSUS MOBIL : Bisnis kursus mengemudi mobil ini cukup menjanjikan di Kota Pontianak.  MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST
KURSUS MOBIL : Bisnis kursus mengemudi mobil ini cukup menjanjikan di Kota Pontianak.  MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST 

Bisa mengemudi mobil adalah hal yang wajib. Apalagi untuk kota-kota besar seperti kota Pontianak. Belum lagi pertumbuhan kendaraan roda empat semakin tinggi. Ini menjadi salah satu alasan, jasa kursus mobil menarik untuk ditekuni.

Agus baru selesai mengajar siswanya menyetir mobil. Selesai memarkirkan mobilnya, pria berusia 46 tahun itu langsung mampir ke warung dan memesan secangkir kopi. Dia pun menyulut sebatang rokok sembari berbincang dengan rekan-rekan kerjanya. “Usaha ini sudah saya jalani sejak tahun 1995,” kata Agus, kepada wartawan koran ini.

Ketika itu Agus belum memiliki mobil sendiri. Hanya kemampuan menyetir mobil yang bisa diandalkannya. Penawaran pun datang dari kenalannya untuk membuka kursus mobil. “Ada teman yang ingin mencoba membuka jasa ini. Saya yang tinggal di kawasan GOR pun diajak untuk bergabung. Meski awalnya coba-coba, ternyata peluangnya bagus.

Di hari pertama saja, sudah ada yang merespon. Hari kedua dan seterusnya semakin ramai yang merespon,” ungkapnya yang ketika itu masih sebagai anak buah. Upah yang diterimanya  Rp 150 ribu persiswa.

Sedangkan tarif kursusnya Rp 350 ribu. Rutinitas seperti inipun berjalan selama 10 tahun. Setelah 10 tahun, barulah Agus memiliki mobil sendiri. Mobil itupun dibeli dari rekan kerjanya. Beruntungnya, dia tidak harus membayar uang muka. Pelunasannya bisa dengan cara mencicil.

Perlahan-lahan usahanya bangkit. Dari yang tinggal di GOR Pangsuma, Agus pun memiliki lahan untuk mendirikan rumah. Akhirnya keluarga yang tinggal di Bonti, Kabupaten Sanggau pun diboyongnya ke Kota Pontianak.  Bahkan mobilnya pun sudah berganti. Jika pertama kali mengajar kursus menggunakan  jenis Kijang kotak, lalu berganti Kijang Super. Sekarang sudah menggunakan mobil Daihatsu Xenia.

Saat ini Agus menyebutkan dalam sebulan setidaknya ada sepuluh murid yang belajar padanya. Tarif kursus sekarang sekitar Rp 1,3 juta. Siswa yang membayar tarif itu tidak hanya bisa menyetir, tapi juga sekaligus mendapat SIM A. “Masa liburan menjadi masa panen bagi instruktur kursus ini, sebab di saat itu ramai orang yang mendaftar untuk belajar kursus mobil,” ucapnya. Namun, momen itu tidak setiap saat.

Ada kalanya jasa ini juga sepi konsumen. Meski sepi, namun siswa tidak pernah kosong. “Paling hanya dua hingga empat orang,” cetus pria yang tinggal di Jalan Karya Baru ini. Jasa kursus menyetir milik Agus ini bergabung dengan BKBM Bina Sarana yang biasa mangkal di kawasan GOR.
 

Bermodal Sabar
Selain Agus, ada juga Iwan Akang yang menjalani hal serupa. Jika Agus sudah 20 tahun, maka Akang sapaan akrabnya sudah sepuluh tahun menjadi instruktur kursus menyetir. Padahal latar belakang Akang adalah kontraktor. Namun karena tekun, ulet dan sabar, pria yang tinggal Kecamatan Pontianak Timur ini bisa menjalankan jasa kursus menyetir mobil. Dia sekarang memiliki dua unit mobil yang siap dipakai untuk kursus.

Kegagalan juga pernah dirasakannya. Itu dialami ketika memutuskan untuk berbisnis ikan. Tiga kapal yang dibelinya sama sekali tidak menghasilkan. Bahkan modal pun tak kembali. Usaha itu benar-benar bangkrut.

“Belajar dari pengalaman sehingga bisa serius di jasa ini,” kata dia. Awal mulanya pun Iwan menjadi tenaga pengajar di jasa milik orang lain. Untuk persiswa, Akang dibayar Rp 6000. Masa-masa itu dijalaninya selama dua tahun. “Saya belajar mengenai psikologi siswa, karena karakter setiap siswa tidak sama. Dari sana saya mendapat tips lebih. Tips ini yang diberikan dari Rp 10 ribu hingga Rp100 ribu,” cerita dia.

Kesabaran dan sifatnya yang komunikatif dengan siswa, membuat konsumennya terus bertambah. Hingga akhirnya jasa yang ditawarkannya terus berkembang. Jasa yang ditawarkannya ini bergabung dengan BKBM Bina Sarana.

Akang menilai usaha yang ditekuninya ini tidak hanya sekedar mencari uang. Tapi dia merasa belajar banyak hal. Salah satunya kesabaran. Meskipun kerap mendapatkan umpatan dari siswa, Iwan tetap berusaha sabar.

Dia menganggap ini salah satu alasan usahanya tetap bertahan.  “Usaha ini bisa mengekang emosi. Itu karena tipikal siswa bermacam-macam. Kalau saya nanti memarahi dan tak sabar, bisa-bisa konsumen bisa lari ke tempat lain,” kata dia. Saat ini dalam sebulan ada belasan siswa yang belajar menyetir mobil dengan Akang. Untuk satu siswa, sehari belajar selama satu jam. Sedangkan lama waktu belajar selama 10 jam. *
Oleh : Ramses L Tobing - Sumber Pontianak Post
Share on Google Plus

About MOMO

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment