Badai Landa Properti

BERTAHAN : Pengembang menerapkan sejumlah strategi jitu untuk tetap bertahan ditengah perekonomian yang sulit seperti sekarang. Seperti terlihat pada pembangunan perumahan mewah di Sei Raya Dalam ini yang masih terus  berlangsung pengerjaannya. FOTO MEIDI KHADAFY/PONTIANAKPOST
BERTAHAN : Pengembang menerapkan sejumlah strategi jitu untuk tetap bertahan ditengah perekonomian yang sulit seperti sekarang. Seperti terlihat pada pembangunan perumahan mewah di Sei Raya Dalam ini yang masih terus  berlangsung pengerjaannya. FOTO MEIDI KHADAFY/PONTIANAKPOST

FENOMENA super dolar menghantam sendi-sendi perekonomian, tak terkecuali di bidang properti. Sektor ini ikut bergoyang ketika nilai tukar rupiah terus melemah. Pengembang rumah kelas mewahlah yang merasakan benar dampaknya. Data dari Real Estate Indonesia (REI) menyebutkan, penjualan rumah mewah menukik turun hingga ke angka 80 persen.

Ketua REI Kalimantan Barat, Sukiryanto mengatakan bahwa tak sedikit pengembang yang nyaris bangkrut karena penjualan yang turun drastis. “Sejak Januari, penjualan hancur-hancuran. Jika ada sepuluh rumah, maka yang laku rata-rata hanya dua saja,” jelasnya. Mereka masih bertahan karena pembinaan dari bank. Selain dolar, kondisi ini juga dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari harga kebutuhan pokok yang naik, begitupun material bangunan. “Itu belum termasuk sektor lain yang melemah seperti perkebunan dan pertambangan sehingga membuat bisnis property terkena imbasnya,” beber Sukiryanto.

Dia menyebutkan, pengembang juga melakukan siasat agar penjualan tetap bertahan. Mulai dari menurunkan harga hingga memberikan kesempatan masyarakat untuk mencicil down payment. Hanya saja, Sukiryanto menilai langkah-langkah itu tidak bermanfaat dikarenakan memang daya beli masyarakat yang sedang menurun.

“Masyarakat bukanya menahan, tapi daya beli mereka yang tidak ada. Ini akibat dari kondisi ekonomi yang lemah. Mereka lebih fokus pada pembiayaan hidup,” ujar dia. Kerugian lain yang dialami pengembang adalah harus mengeluarkan biaya lagi untuk merawat rumah yang tidak laku dijual. Kondisi ini benar-benar membuat pengembang kesulitan. Belum lagi berbagai persoalan lain yang ikut membelit seperti perizinan dan suplai listrik untuk perumahan baru. “Ajukan sekarang, tiga tahun lagi baru ada. Belum lagi perizinan yang susah,” keluhnya.

Sukiryanto menyarankan, pemerintah mesti punya andil. Salah satunya  dengan mempermudah perizinan seperti mengutamakan listrik, kemudian biaya untuk pemecahan sertifikat bagi rumah subsidi dan komersil berbeda. Namun hal ini menurutnya belum terlalu berdampak bagi perumahan subdisi yang justru mengalami peningkatan penjualan, meskipun dalam kisaran 10 hingga 15 persen.

“Perumahan murah masih terus jalan. Makanya saya ingatkan pengembang, cukup jual rumah yang ada, jangan bangun yang baru dulu. Jika ada lahan yang bagus,  boleh bangun yang subsidi. Kerjakan secara bertahap,” katanya sembari berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk memperbaiki kondisi ini sehingga perekonomian bisa tumbuh kembali. **
Share on Google Plus

About MOMO

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment